Minggu, 23 Desember 2018

Baca aja, sih.


VIO

Karya : Silent Newbie


"Ckk," Vio berdecak jenuh. Ia menumpukan dagunya di atas kepalan kedua tangannya yang ia letakkan di atas meja belajarnya. Wajahnya merengut dan pipinya menggembung. Ia kemudian membenamkan wajahnya di lipatan kedua tangannya. Ia sedang berusaha keras untuk mengerjakan tugas mata kuliah Aplikomnya. Sudah satu setengah jam ia berkutat dengan layar laptopnya, namun nihil, halaman kerja yang terpampang di monitor laptopnya tak kunjung terisi. Sedari tadi yang ia lakukan hanya mengetuk-ngetuk dagu, memandang langit-langit kamar, dan sesekali mengerutkan keningnya memandang monitor. Semua sudah dilakukannya, namun satu ide pun tak kunjung terlintas dipikirannya.

"Vioo, ayoo Vioo mikir. Buka dikit jendela sinar di otak lo, ini tugas deadlinenya nanti malam dan sampai sekarang lo sama sekali belum buat satu dari dua postingan pun Viooo, haaaa," Vio berbicara dan merutuki dirinya sendiri. Ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan agar blog yang sudah ia buat dapat berisi beberapa postingan, sesuai dengan tugas yang sudah ditentukan.

Vio berpikir keras. Vio memilah konten apa yang harus diunggahnya, dan bagaimana cara membuatnya. Video? Tidak. Gambar? Tidak. Dokumen? Tidak. Semuanya serba salah dan keputusan selalu berakhir pada kata 'tidak'. Vio sudah mulai putus asa dan tidak bersemangat.

Vio menoleh ke arah ponselnya yang terletak di samping laptop. Dia meraihnya dan tangannya mulai menari-nari di atas layar ponselnya.

"Halo? Kenapa Vi?" Ucap seseorang dari seberang sana.

"Nadin, gue gatau harus mosting apa di blog gue! Lo udah selesai, kan? Ajarin gue dong, Din. Pleasee,"

"Yaah. Gimana ya? Lo tulis apa aja deh, terserah. Yang penting lo menulis,"

"Yaelah, Din. Gue juga tau gue mau nulis. Masalahnya gue gatau apa yang mau gue tulis, ck!"

"Lo tulis aja kek, sesuatu yang pernah lo alamin gitu. Yang bikin lo senang, sedih, nangis, atau kesal terserah," 

"Apa ya? Ga ingat gue. Kalo pun gue ingat gue belum tentu tau nulisnya Din, haaa. Din, bantuin gue dong! Gue kesal tau gak,"

"Lo kesel?"

"Iya!"

"Kesel banget??"

"Haaa, lo jangan becanda dulu deh Nadin. Gue kesal. Gue belum buat postingan apapun, otak gue buntu, padahal ngejar deadline lagi,"

"Lo kesel kan? Yaudah, tulis kekesalan lo itu!"

"......." Vio berpikir sejenak.

"Apa yang buat lo kesal? Semua yang lo ceritain ke gue barusan kan? Yaudah, itu tulis ulang di blog lo!"

"Uhmm, oke gue coba. Makasih ya, Din. Hahaha,"

"Iya, lain kali jadi temen gausa bego-bego amat ya Vi,"

"Bego gundulmu. Udah dulu gue mah nulis bayy!"

"Tuutt, tuut, tuutt,"

Sambungan telepon terputus. Vio mulai menulis tentang kekesalan yang dialaminya tentang tugasnya. Alhasil, tanpa disadari, ketidaktahuan Vio untuk mengerjakan tugas aplikomnya dalam membuat postingan blog,  pada akhirnya malah menjadi petunjuk baginya untuk mampu menuliskannya sendiri.




9 komentar: